Journey

Yeee, libur! Nggak masalah walau cuma dua hari yang penting libuuur. Aha, tanggal merah aku ke Ponorogo. Budeku, bude Atiek yang ngajak. Awalnya aku nggak mau. Kenapa? Karena nanti di Ponorogo aku nggak ada temennya. Tapi karena aku inget saudara sepupuku, Mbak Rista, mau ke Ponorogo juga, okelah, aku ikut. Mama bilang ke aku supaya telfon ke bude Ana dulu, ke Ponorogo atau nggak. Setelah ditelfon, jawaban bude Ana adalah, ” Belum tau”.

Ya sudahlah, lagian aku nggak bakal rugi sama sekali kalau ke Ponorogo nggak ada temennya. Toh aku bisa main – main sama si Brontok alias Raka. Brontok artinya keriting mungkin. Soalnya saudara sepupuku yang satu ini rambutnya sekeriting mie. Mungkin lebih keriting daripada mie, hehe 🙂

Setelah telfon, aku nonton TV sebentar. Aku bilang sama mama, “Ma, aku kepingin mandi.” Pasti kalian berpikir aku anak manja kan? Jawabannya adalah kadang iya, kadang nggak, haha… Dari awal aku udah tau kalau mama pasti menjawab, “Ya udah sana, mandi ae.” Dan ternyata benar, jawaban mamaku nggak jauh beda dari perkiraanku tadi. Berhubung aku lagi pilek, dari tadi srat srut srat srut, aku tanya, “Pake air anget, ya?” Jawaban singkat dari mamaku, “Iya.” Sebelum mandi aku nge-pack semua baju yang aku bawa, aku harap nantinya nggak ada yang ketinggalan. Akhirnya aku mandi pake air anget.

Kalau mandi jangan lama – lama. Hematlah air, mandi maksimal 5 – 10 menit. Apalagi kalau lagi udhur alias menstruasi. Tapi yang aku lakukan kebalikan dari kata – kata itu, mandi lebih dari 10 menit. Ya Allah, bener – bener seger mandi di malem hari. Tapi banyak resikonya (emangnya iya?). salah satunya adalah flu, batuk, pilek. Setelah itu aku masuk kamar, siap – siap. Nah, aku takut kalau nanti bude Atiek udah jemput aku ke rumah. Nah lho, ternyata sungguhan lhoo! Udah dijemput waktu belum selesai siap – siap. Aaargh, terpaksa bude Atiek, pakde Anto, mbak Dinda nunggu sebentar. Nggak sampe 15 menit aku udah selesai.

__________________________________

Perjalanan ke Ponorogo, hidungku meler terus alias keluar umbelnya terus (maafkan saya kalau anda merasa jijik). Srat srut, srat srut. Nggak cuma aku yang pilek. Mbak Dinda batuk, aku pilek, komplit nih. Perjalanan terasa nggak seru. Aku nggak bisa ndengerin musik, MP4ku rusak sih, rusak di saat yang nggak tepat nih. Aku cuma bisa liat ke luar jendela mobil sambil ngangguk – ngangguk alias nagntuk. Suasana masih rame, banyak mobil, banyak truk, banyak bus. Rame, gara – gara banyak bus yang dari tadi TAN TIN TAN TIN terus. Nggak tau sampe mana, aku udah tidur lelap.

Aku terbangun gara – gara hidung ini meler terus. Aku minta tisu ke bude. Mungkin lucu banget, aku tidur sambil nyumpelin tisu ke hidungku yang dari tadi meler. Tujuannya biar nggak meler terus saat aklu tidur plus biar hidungku nggak kerasa gatel gara – gara umbel yang meler.

Terasa singkat banget soalnya aku tidur. Aku terbangun waktu sampe Kertosono (kalau nggak salah). Pokoknya sebelum Nganjuk lah. Aku emang niat banget kepingin melongo ke luar jendela di Nganjuk. Aku pingin liat suasana Nganjuk yang banyak hutannya itu di malem hari. Gelap… ya iya lah, udah malem.


_________________________________

Aku udah merasa bakal ada kerusakan di mobil yang aku tumpangi, saat aku liat ada mobil innova atau xenia yang mepet banget ke mobil yang aku tumpangi. Nah, ternyata bener, spion sebelah kiri mobil nyaris copot. Aku rada – rada inget pengemudi innova itu atau nggak xenia itu. Pake topi, jendela terbuka. Sedikit meringing waktu melirik spion yang nyaris copot itu. Hmm, goyangan yang dibuat spion itu mirip kayak… eeer, pocong. Bedanya pocong warna putih, spion warna item. Oglek – oglek terus dan akhirnya terjatuh gara – gara nggak kuat lagi. Hohoho…

__________________________________

Aku tidur lagi dan sama sekali nggak merasa perjalanan yang aku tempuh sangaaat panjaaang. Katanya mecet tapi aku sama sekali nggak merasa. Aku dan aku yakin Mbak Dinda juga tertidur pulas. Rasanya lucu juga waktu aku nyumpelin tisu ke hidungku yang buntu gara – gara pilek. Ahahaha, sayang Yaffa, sepupuku, nggak ikut. Dia sakit. Sama kayak mbak Dinda, katanya batuk. Aku kangen banget ocehannya yang menggemaskan itu. Kangen saat dia nyanyi Kodok Ngorek. Tapi bukannya bilang ‘Kodok Ngorek’ dia malah bilang ‘Kodok Golek’. Lucu kan? Huh?

Aku sampe jam 4 dini hari. Waaah, lama juga ya. Dari jam setengah 11 (kalau nggak salah) sampe jam 4 dini hari. Bener – bener lama dan aku sama sekali nggak merasa. Sedikitpun. Mas Engky dan Mbak Novi yang membukakan pager rumah. Sementara yang lainnya masih tidur. Ado bangun soalnya (mungkin) dia merasa ada yang ketuk – ketuk pintu kamar. Aku tidur lagi dari jam setengah lima sampe jam 9 pagi! Dan aku bertemu Raka yang sangat aku rindu. Begitu juga dengan Viecky, Ibu (aku manggil nenek dengan sebutan Ibu, ketularan mamaku). Aku kangen semua yang ada di Ponorogo. Begitu bangun, aku disuruh makan. Dan lauknya adalah nasi plus tempe yang biasa dimakan bareng pecel dan sambel pecel. Huaaa, mantap. Lebih enak daripada nasi pecel yang ada di sekolahku, hehe 🙂


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s