The First Impression

first-impression1

The First Impression

Main Cast: Jung Hana (OC), Park Chanyeol (EXO)

Author: olgaafifa / oljjang

Genre: Friendship, romance(?)

Rating: T

Length: Ficlet

Disclaimer: Cerita ini murni ideku dan terinspirasi dari pengalaman pribadi. Si Chanyeol milik Tuhan dan kita bersama(?), kalau si Hana… terserah, deh. Hohoho.

N.B: Hola~! Setelah lama nggak nge-post di blog sendiri, saya kembali dengan membawa sebuah ff. Kkk. Aduh, lama nggak post jadi lumutaaan. FF ini awalnya tugas dari guru bahasa Indonesia yang nyuruh bikin cerpen dengan tema bebas. Karena aku K-Pop, aku pingin bikin cerpen yang tokoh utamanya artis K-Pop. Wkwkwk. Cerpen (bisa dibilang ff nggak sih?) ini udah aku edit sana-sini, jadi beda dari tugas yang udah aku kumpulkan.

Oke! Tak usah banyak bacot. Happy Reading!

* * * * *

Seorang gadis kecil terpaksa bangun dari tidurnya ketika sebuah suara membangunkannya. Ia pun mengusap pelan kedua matanya. Ah, ia ingat kalau sekarang ia sedang di dalam mobil, dalam perjalanan menuju rumah neneknya.

“Uwaaa! Ayah, ibu, kita sudah sampai!” Gadis kecil itu berseru ketika melihat sawah-sawah terhampar di luar mobil. Kini ia dan keluarganya memasuki perbatasan desa neneknya dengan desa lainnya.

Ayah dan ibu yang duduk di depan Hana—nama gadis kecil itu—terkekeh mendengar nada semangatnya. Mereka merasa senang melihat Hana yang selalu bersemangat seperti biasanya. Bahkan mungkin kali ini dia lebih bersemangat dari biasanya.

“Sebentar lagi, sayang. Setelah melewati lapangan, kita akan segera sampai,” jelas ibu sambil tersenyum.

Hana hanya mengangguk. Ia benar-benar senang bisa mengunjungi neneknya.

Duk.

Entah mengapa, tiba-tiba mobil yang ditumpangi Hana berhenti mendadak. Hal itu membuat gadis kecil berambut panjang itu terdorong dan membentur badan kursi mobil di depannya. Hei, hei, apa yang sedang terjadi?

Hana pun segera mencari tahu apa penyebabnya. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah yang pada akhirnya, pandangan gadis kecil itu tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang memungut bola tepat di depan mobil.

Hana terpaku seketika. Matanya tidak berkedip menatap seorang anak laki-laki yang menegakkan badannya—setelah sedikit membungkukkan badannya untuk memungut bola—dengan cengiran lebar yang terlukis di wajah putihnya. Tubuh jangkungnya juga membuat gadis kecil itu tidak bisa berkata-kata. Tidak ada teman sekelasnya yang mempunyai tinggi badan setinggi anak laki-laki itu.

Mobil kembali melaju setelah anak laki-laki itu menunjukkan—lagi—cengiran khasnya, lalu berlari menyusul teman-temannya ke lapangan. Namun, Hana tetap memperhatikan anak laki-laki itu dari kejauhan hingga tidak terjangkau oleh indera penglihatannya.

Hana terdiam, memeluk boneka beruang yang ia bawa dari rumah. Ia merasa aneh sendiri. Otaknya terus-terusan memutar kejadian barusan. Ketika tubuh jangkung anak laki-laki itu membuat matanya tidak berkedip dan juga cengiran khas anak laki-laki itu yang sangat menawan. Semua berputar di otaknya begitu saja. Seperti video Angry Bird yang selalu ia tonton sepulang sekolah.

Ah, apa jangan-jangan Hana menyukai anak laki-laki itu? Astaga.

* * * * *

Saat ini Hana sedang duduk di sebelah neneknya. Hanya sekitar beberapa menit yang lalu ia dan keluarganya sampai di rumah neneknya. Begitu sampai, ia menceritakan semua pengalamannya di sekolah dengan penuh semangat. Melihat tingkah cucunya yang sangat menggemaskan itu, sang nenek pun tersenyum sembari mengelus lembut kepala gadis kecil itu.

“Hana-ya! Apa kau mau ikut ayah ke sungai? Banyak ikannya, lho,” ajak ayah pada Hana setelah memindahkan barang-barang dari bagasi mobil ke dalam rumah nenek.

Hana yang mendengar ajakan ayah langsung menoleh. Seperti tidak mengenal kata lelah, ia tersenyum lebar dan mengangguk dengan penuh semangat. “Tentu saja, yah! Ayo kita pergi!” serunya sembari melompat turun dari kursi yang ia duduki barusan.

“Kalau begitu, ayo!”

Setelah berpamitan kepada ibu dan nenek, Hana dan ayah pergi ke sungai.

Dalam perjalanan menuju sungai, lagi-lagi Hana disuguhi pemandangan yang luar biasa. Banyak pepohonan yang berdiri kokoh di kanan-kirinya. Bunga-bunga berwarna-warni bak pelangi juga mekar dengan sangat apik. Hal itu sukses membuat mulutnya terbuka sedikit, tidak bisa mengelak karya Tuhan yang sangat menakjubkan.

Ayah berjalan tidak jauh di depan Hana. Sedangkan Hana mengikutinya sambil melompat-lompat kecil. Aih, betapa senangnya gadis kecil itu.

Setelah beberapa menit berjalan sambil menikmati pemandangan indah, Hana melihat seekor kupu-kupu terbang di hadapannya. Kupu-kupu itu sangat indah. Seakan terhipnotis dengan kecantikan sayap serangga itu, gadis kecil itu mengehentikan langkahnya hanya untuk memperhatikan serangga pemakan nektar itu.

Hana memperhatikan sebentar kupu-kupu itu lalu mengejarnya. Dan tanpa Hana sadari, ia telah berbelok ke sebuah tikungan dan terpisah dari ayah.

“Yaaah, kupu-kupunya sudah jauh.” Hana merengut saat kupu-kupu itu sudah terbang jauh darinya.

Hana terdiam di tempatnya berdiri. Ia merasa ada yang aneh. Saat ia menolehkan kepalanya ke segela arah… benar saja. Ayahnya menghilang! Ia tidak melihat ayah. Ayah tidak ada di depan, belakang, ataupun kanan-kirinya. Di sekitarnya sepi, tidak ada orang sama sekali.

Jantung Hana bekerja lebih cepat seperti sedang lari maraton. Berada di tempat yang asing, ditambah dengan tidak adanya satu orang pun di tempat itu membuat Hana ketakutan.

Kaki kecilnya melangkah pelan dan terlihat sedikit bergetar. Ia bingung. Ia hanya ingin cepat-cepat menemukan ayah, ibu, nenek, atau siapapun yang dapat menolongnya.

“Ibu, ayah,” gumamnya parau. Rasanya saat ini juga ia ingin menangis.

Oh! Hana tiba-tiba mendengar suara nyaring yang dibarengi oleh sesuatu yang menyentuh pergelangan kakinya. Langsung saja badannya berputar ke belakang. Ketika ia melihat ke belakang…

Ia melihat seekor angsa yang kembali mengeluarkan suara khasnya.

Hana menghela napas lega. Jujur saja, tadi ia sempat berpikir hantulah yang melakukannya.

Hana berjongkok di hadapan angsa itu. Ia sedikit menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah angsa itu lebih jelas. Wah, lucu sekali, batinnya.

Rasa ingin tahu gadis kecil itu membuat tangannya terulur ke depan untuk menjangkau badan angsa. Ia sama sekali tidak takut dengan hewan yang entah dari mana asalnya itu dan siapa pemiliknya. Ia juga tidak takut akan resiko apa saja yang diterima jika berhasil menyentuh hewan itu. Saat tangan kecilnya hampir menyentuh bulu-bulu angsa tersebut, tiba-tiba saja…

KWEK!

Angsa itu mengeluarkan suara yang sangat lantang dan terdengar sedikit menakutkan menurut Hana. Hana pun tersentak kaget dan langsung mengurungkan niatnya—menyentuh badan angsa. Ia juga segera berdiri saat angsa itu mendekat ke arahnya.

Hei, jangan bilang angsa itu sedang kelaparan dan mengira Hana adalah makanannya.

Hana mundur sejauh yang ia bisa. Ia berusaha memperlebar jarak antara dirinya dengan angsa itu. Tapi sayangnya, angsa itu juga berusaha untuk mempersempit jarak antara dirinya dan Hana.

Melihat situasi seperti itu pun Hana segera berbalik dan berlari tanpa pikir panjang.  Ia berharap angsa itu tidak akan mengikutinya.

KWEK! KWEK! KWEK!

Suara itu terdengar lagi dan semakin mendekat. Hana menoleh untuk meyakinkan bahwa dugaannya salah. Dan ternyata salah, dugaannya memang benar. Angsa itu mengejarnya!

Hana mempercepat larinya. Tanpa ia suruh, kedua matanya mulai memanas. Jika ia berkedip, mungkin saja akan ada benda cair yang keluar dari kedua matanya.

“Ibuuu!” teriak Hana memanggil ibunya. Ia benar-benar sangat ketakutan.

Sambil terus berlari Hana menolehkan lagi kepalanya ke belakang. Tatapannya menjadi bingung dan ia pun memperlambat laju larinya ketika angsa itu tidak lagi mengerjarnya.

Dari tempatnya berdiri saat ini, Hana dapat melihat angsa itu ‘bertarung’ dengan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu terlihat sedang membawa sesuatu, yang sepertinya ranting pohon. Ia menyodokkan ranting itu ke angsa berulang kali sampai angsa itu pergi menjauh—dan lagi-lagi dengan mengeluarkan suara khasnya.

Tidak bisa dipungkiri. Hana lega, benar-benar lega.

Hana melangkahkan kakinya untuk mendekati anak itu dan ingin mengucapkan terima kasih padanya. Ia masih ingat betul pesan ibu untuk selalu mengucapakan terima kasih jika seseorang telah membantu atau memberi kita sesuatu.

Ketika Hana berada 5 meter di belakang anak itu, ia merasa pernah melihat postur tubuh anak itu. Terutama tinggi badan anak itu yang menjulang untuk ukuran anak seusianya terasa sangat familiar. Jangan-jangan…

Nah, tebakan Hana terjawab begitu anak laki-laki itu berbalik lalu menunjukkan cengiran khasnya pada Hana. Gadis kecil itu tersenyum lebar, tebakannya benar. Anak laki-laki itu adalah anak yang ia lihat di lapangan tadi. Ia dengan segera berjalan cepat—hampir terlihat berlari—mendekati anak itu.

“Apakah kau tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka?” tanya anak itu ketika Hana sudah berdiri tepat di depannya. Ia mengamati sekujur badan Hana. Mulai dari kepala, hingga ujung kaki berulang kali. Hana tersenyum lebar melihat kelakuan anak itu, sedangkan anak itu terheran-heran. Apa ada yang lucu?

“Aku tidak apa-apa. Terima kasih.” Hana melemparkan senyum terbaiknya pada anak itu.

“Hm, baguslah kalau begitu. Ah, iya. Namaku Park Chanyeol. Namamu siapa?” Anak yang bernama Chanyeol itu mengulurkan tangannya pada Hana. Ia tersenyum hingga menampilkan deretan gigi putihnya yang lagi-lagi membuat Hana terpana.

Hana menyambut uluran tangan Chanyeol. Ia pun memperkenalkan dirinya. “Namaku Jung Hana. Waaah! Chanyeol! Tadi kau hebat sekali bisa mengusir angsa!” puji Hana sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Chanyeol. Ia sedikit mendongak untuk melihat wajah Chanyeol. Wajar saja, selisih tinggi badan mereka terlihat sangat kontras.

Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pujian yang dilontarkan Hana barusan berhasil membuatnya salah tingkah. “Ah, tidak, kok. Tadi hanya kebetulan saja angsa itu takut padaku. Hehe. Ah ya Hana, apa kau orang baru di sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Aku baru saja datang dari Seoul tadi.”

“Ah, pantas saja. Lalu, kau tinggal di mana sekarang?”

Hana terdiam mendengar pertanyaan Chanyeol. Pertemuan kedua kalinya dengan Chanyeol membuatnya lupa jika saat ini ia tersesat. Ia tersenyum malu-malu pada Chanyeol. “Aku tinggal di rumah nenek. Hm… Chanyeol, bisakah kau membantuku? Aku… aku lupa jalan pulang,” ujar Hana malu-malu sambil menunjukkan cengiran khas seorang bocah.

“EH? JEONGMAL?” Suara Chanyeol nyaris saja membuat

Hana menggeleng tidak tahu. Wajar saja, karena kedatangannya kali ini adalah kedatangannya yang kedua kali. Yang pertama ketika umurnya masih 4 tahun dan saat ini, ketika umurnya 7 tahun.

“Hm…” Chanyeol terlihat berpikir. Hana yang melihatnya hanya memiringkan kepala, menanti-nanti apa yang akan dikatakan bocah laki-laki berusia 8 tahun di depannya ini.

“Nama nenekmu?”

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, nenek punya ayam yang banyak sekali. Lalu, juga punya banyak ikan hias yang diaruh di kolam yang banyak bunga… bunga… bunga apa, ya?” Gadis kecil itu menggaruk kepalanya. Meski sudah sering mendengar nama bunga yang menurutnya sangat keren itu—karena bisa hidup di air—ia tetap saja lupa apa nama bunga itu.

Chanyeol yang melihat Seungjae bingung, juga menjadi bingung. Ia juga ikut mengingat-ingat nama bunga yang bisa hidup di air. Bunga merah yang berduri? Ah, tidak mungkin. Di depan rumahnya ada banyak bunga seperti itu dan masih tetap tumbuh subur meski tidak ditanam di kolam. Bunga putih yang harumnya hampir sama dengan teh favoritnya? Aduh, mungkin juga tidak mungkin. Ia masih ingat betul bunga harum itu ditanam kakaknya di tanah halaman depan rumahnya.

“Ah!’ Tiba-tiba saja bocah jangkung itu menjerit tertahan sambil menjentikkan jarinya. “Mungkin itu nenek Kim! Aku tahu! Ayo ikut aku!” Chanyeol tersenyum lebar. Ia lalu menggandeng tangan Hana, seperti tidak ingin gadis kecil itu tersesat lagi. “Lain kali jangan tersesat lagi, ya?”

Hana menganggukkan kepalanya cepat, lalu berseru. “Iya!”

Sambil mengobrol banyak hal, dengan tangan yang saling bertautan, Chanyeol dan Hana berjalan menuju rumah nenek Kim—neneknya Hana.

*****

Terlihat seorang gadis memasuki sebuah tokok buku dengan jaket kuning tebal yang menutupi badan mungilnya. Tak lupa syal rajutan berwarna putih dari neneknya melilit sempurna di lehernya. Hembusan nafas yang terdengar tidak ikhlas terdengar dari gadis itu saat mengedarkan pandangannya ke setiap sudut toko itu.

Kalau saja bukan karena pelajaran bahasa Jerman yang ia dapat di sekolah barunya, ia tidak akan repot-repot mencari kamus bahasa Jerman di tempat yang jarang ia singgahi ini.

Dengan langkah yang berat, ia berjalan malas-malasan menuju plang yang bertuliskan KAMUS yang tercetak tebal dengan huruf kapital di setiap hurufnya. Matanya cepat-cepat menelusuri setiap huruf yang tercetak di setiap buku, berharap tidak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang ia cari.

“HA!” Gadis itu berseru dengan lntangnya. Tanggannya langsung meraih apa yang ia cari beberapa menit yang lalu. Sebuah kamus bahasa Jerman yang lumayan tebal menurutnya.

Gadis itu langsung berjalan ke kasir tanpa memeriksa harga dan kelengkapan kamus itu. Namun, langkahnya terhenti seketika saat seseorang meneriakan nama yang menurutnya adalah nama paling indah yang pernah ia dengar, nama yang beberapa tahun ini membuatnya tersenyum-senyum sendiri ketika mengingatnya, nama yang mengingatkannya pada pahlawan yang pernah menolongnya dari kejaran angsa 8 tahun yang lalu.

Park Chanyeol.

“HEH! PARK CHANYEOL!”

Teriakan itu kembali terdengar. Tak lama kemudian suara derapan kaki yang terdengar semakin mendekati gadis itu—Jung Hana—membuatnya bingung sendiri. Entah kenapa ia menjadi bingung sendiri hanya karena suara itu. Yang ia rasakan saat ini adalah, akan ada sesuatu yang mengejutkannya.

Dan ia berharap itu akan terjadi.

End

Wahahaha. Gimana sama ff-nya? Ancur kah? Ini pertama kalinya aku berani nge-share karyaku sendiri ke publik. Malu sumpah /.\

Jangan lupa komen atau like, oke? Aku bener-bener masih belajar nulis. Penulisan di ff ini kentara banget kalau aku masih amatir. Huhu u,u

Tengkyuuu~

Advertisements

8 thoughts on “The First Impression

  1. aduh akunya ngerusuh disini gapapa ya olga, ini bagus ga tpi aku kok malah ngebayangin orific gitu di awal-awal. mungkin emang awalnya di buat dalam settingnya Indonesia kali ya. tapi aku tetep enjoy bacanya. semacam nendangnya dibelakang, dia ngelihat Chanyeol terus kaya ini hlo dulu mereka ketemu kaya begini ceritannya. keep writing dear ❤

    • aih, nggak apa2, kak. aku malah seneng kalau ada yg ngerusuh di blog sesepi ini >_<
      iya, kak. soalnya ini tugas dari guru bahasa Indonesia. dan kalau Korea-nya ketara banget, aku bisa2 dikira maniak sama temen2 (tp emg lumayan maniak, sih). wahaha. aaaa~ makasih banyak, kak. semangatnya masuk ke hati banget XD ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s