Unwanted Marriage | Chapter 1

Author: oljjang feat. trafalkid

Main Cast: Byun Baekhyun and Lee Eunmi (OC)

Other Cast: (you’ll find it after read this chapter, kkk~)

Genre: Marriage life, school life, AU, romance, and friendship

Rating: PG-15

Length:  Multi Chapter

Disclaimer: FF ini adalah sebuah project dari 2 author, yaitu oljjang dan trafalkid. Jadi ide FF ini semuanya adalah murni dari kedua author.

Gaun pengantin retro krem berkerah V itu masih menempel di badan kurusnya sejak pagi tadi. Raut wajah yang muram, terlebih lagi dengan gaun pengantin yang dikenakan, mungkin akan membuat orang-orang yang melihat berasumsi sesuatu yang tidak-tidak tentang gadis itu. Apa ada yang sedih setelah mengikat janji suci dengan orang yang dicintai?

Yah, untungnya gadis itu sedang berbaring di ranjang berukuran super besar yang ada di salah satu kamar villa milik mertuanya. Kalau saja ia masih berdiri dengan tampang menyedihkan selagi menyapa para kerabat dan relasi yang datang ke resepsi pernikahannya, bisa-bisa ia didepak dari acara pernikahannya sendiri karena dianggap sebagai mempelai wanita yang tidak tahu diri.

Andai waktu bisa diputar, ia sangat ingin ditendang keluar dari gedung pernikahannya. Sesegera mungkin ia akan mentraktir seluruh temannya di restaurant yang menyajikan makanan paling enak se-Korea.

Tapi sayangnya, waktu sudah berlalu dan tidak mungkin kembali lagi. Mau bagaimana lagi?

Dengan mata terpejam, gadis itu menarik sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-parunya. Hidungnya yang kembang-kempis bukan menandakan dirinya sedang gugup (mentang-mentang malam ini adalah malam pertamanya), tapi ia dibuat cukup frustasi oleh kejadian yang menimpanya tiga minggu ini. Diam-diam ia menyesal telah lahir di tengah-tengah keluarga terlampau kaya yang sedikit-sedikit menyerahkan perjodohan untuk anak tercinta. Betapa kejamnya dunia jika semua orang harus hidup seperti itu.

Bayang-bayang akan nasibnya setelah ini, kini mulai hinggap di kepalanya. Tidak cukup untuk hinggap saja, bayang-bayang itu berlarian terus di kepala hingga rasanya pusing sekali untuk sekedar memikirkannya. Bayang-bayang akan kebebasannya, tanggapan orang-orang, keberadaannya, dan… suaminya.

Mungkin suaminya memiliki kekasih. Ya, mungkin saja. Dan yang paling buruk, bisa jadi kekasih suaminya itu menudingnya telah merebut kekasih orang seenak dengkul. Cih, seumur-umur ia tidak mau dituduh hanya gara-gara hal tidak elit seperti i—

BRAK!

—.

Tiba-tiba pintu kamar mandi di pojok kamar bercat abu-abu itu terjeblak lebar. Seorang pria berparas imut dengan perawakan tidak begitu tinggi muncul dengan handuk yang terkalung di leher putihnya. Ia melemparkan senyum jahilnya yang terkesan tidak berdosa pada gadis yang hanya berjarak dua meter dari hadapannya. Tidak peduli dengan tatapan kau-sedangapa dari si gadis, ia masih saja begitu. Malah kali ini senyumannya bertambah lebar.

“Ha! Jangan pura-pura bingung seperti itu, Lee Eunmi! Aku tahu sebenarnya kau kaget!”

Apa? Bingung? Kaget? Yang benar saja!

Tawa renyah lolos begitu saja dari bibir tipis si pria. Dengan langkah yang sangat percaya diri, ia mendekati gadis yang telah sah menjadi istrinya mulai hari ini. Dan… hei! Bahkan ia juga memamerkan kedipan matanya yang… tak terdefinisikan.

Ugh, seimut-imutnya dia, setampan-tampannya dia, atau sekeren-kerennya dia, Eunmi tidak terkesan. Baginya, kedipan mata macam apapun yang ditunjukkan lelaki itu padanya, membuat ia ingin menjambak rambut cepak bocah narsis itu tanpa ampun. Ingat! Tanpa ampun!

Ya, aku heran. Apa gigimu sakit? Kenapa diam saja? Dalam perjalanan ke sini sampai sudah di kamar, kau belum mengucapkan satu huruf pun,” gerutu lelaki itu pada Eunmi setelah menarik kursi rias di dekat lemari ke hadapan gadis berambut ikal itu, kemudian ia duduk dengan nyaman di atasnya.

Sejenak pria itu terdiam, lalu berseru secara mendadak, membuat gadis itu tersentak. “Ah! Aku tahu! Kau… gugup?” tebaknya tidak percaya. Ah, mungkin lebih tepatnya pura-pura tidak percaya. “Aigooo. Tidak perlu gugup. Aku pernah dengar kalau di malam pertama, beberapa wanita  biasanya gugup. Apalagi bersama pria tampan sepertiku. Tapi tidak masalah, itu normal. Mungkin kau juga termasuk. Ah, tapi… masa kau wanita? Berjalan dengan high heels saja tidak lan—aah!”

Tiba-tiba sebuah benda empuk dengan sarung putih yang menyelimutinya menginterupsi ucapan pria itu. Benda mati itu dengan sukses mendarat di wajah imutnya. Meski tidak terlalu keras, ia cukup kaget dengan aksi mendadak Eunmi yang ternyata melempar bantal ke arahnya.

“Stop! Kau sudah terlalu banyak bicara, Byun Baekhyun-ssi!” seru Eunmi kesal.

Baekhyun –bocah yang telah dicap narsis oleh Eunmi melotot. “Wae? Aku benar, ‘kan? Waktu itu kau memang jatuh karena heels lima sentimu mengenai pelayan yang membawakan kopi. Bahkan bajumu basah terkena tumpahannya.” Oke. Baekhyun berbicara sangat cepat seperti ia tidak mengenal titik dan koma. “Dan kau juga nyaris melempariku dengan sepatumu itu hanya gara-gara memelukmu. Padahal waktu itu aku sudah berbaik hati menyelamatkanmu dari lantai yang tidak ada empuknya sama sekali. Kau tidak tahu cara berterima kasih yang benar? Aish, kau malah ingin melempariku dengan sepatu—adaw! Ya! Ya! Ya!”

Lagi, Eunmi melempar bantal ke arah Baekhyun. Namun kali ini semua bantal di ruangan itu ia lempar dan lebih keras dari sebelumnya saking kesalnya dengan sikap pria itu. Dia kelewat cerewet! Sungguh! Untuk apa ia curhat tentang dirinya yang nyaris dilempar sepatu olehnya? Dan ugh, berani-beraninya mengungkit kejadian memalukan di hari di mana mereka dijodohkan.

Jadi, begini.. Hari itu adalah hari Minggu yang sangat cerah. Awan putih terlihat menggantung di langit biru dengan sangat jelas. Burung-burung saling bersahutan dengan nyanyian yang terdengar begitu merdu, seakan mereka sedang dalam kontes menyanyi. Matahari juga mendukung suasana tentram pada saat itu, tidak terlalu menyengat ataupun terlalu redup.

Hari yang sangat sempurna bagi Eunmi untuk membaca komik-komik yang baru ia beli. Tapi tanpa diundang, ibunya masuk ke kamarnya sambil tersenyum sangat lebar dan mengeluarkan kalimat yang langsung menjadi kalimat yang ia benci.

“Berdandanlah yang cantik dan pakailah dress yang ibu belikan waktu itu! Kita akan makan di luar!”

Oke. Sebetulnya, ia tidak sepenuhnya membenci dua kalimat yang dilontarkan ibunya. Makan tentu menjadi hal menarik bagi Eunmi. Tapi untuk berdandan, memakai dress? Jangan harap gadis SMA itu mau memakainya. Mendengar benda-benda feminim itu saja sudah membuatnya ingin membanting apapun yang ada di dekatnya.

Namun, ibunya merupakan ibu paling keras kepala sedunia. Eunmi menghiraukan perintah ibunya itu. Terbukti ketika ia keluar dari kamar dengan mengenakan kaos model hip-hop yang kebesaran, celana jeans panjang, rambut yang dikuncir sekenanya, dan sepatu sneakers putih, Beliau –ibu Eunmi mulai berkacak pinggang dan siap meneriakan teriakan paling mematikan sejagat raya. Membuatnya mau tidak mau harus kembali ke kamar dan memakai benda yang menurutnya keramat itu.

“LEE EUNMI! PAKAI HIGH HEELS DAN DRESS PUTIH ITU SEKARANG JUGA ATAU UANG JAJANMU AKAN KUPOTONG! DAN SATU LAGI! SETIDAKNYA KAU MEMOLES WAJAHMU DENGAN BEDAK!”

Yah, begitulah nasib Eunmi di pagi cerah itu. Penuh dengan paksaan dan penderitaan.

Dan penderitaannya semakin bertambah begitu ia dibawa orang tuanya ke sebuah restaurant mewah—pantas disuruh berdandan, ia kira ia akan makan di kedai ramyun langganan.

Tak lama setelah memasuki restaurant, seorang wanita dengan dua orang pria yang duduk di sampingnya melambaikan tangan pada ibu Eunmi, lantas ibu gadis itu sadar dan segera menghampiri mereka dengan girang. Eunmi dan ayahnya tentu saja harus mengekor di belakangnya.

Dan kejadian yang tidak ingin ia harapkan terjadi. Rasanya moment itu terjadi begitu cepat.

Eunmi mengikuti pembicaraan wanita di depannya itu. Ia menangkap informasi tentang seorang nenek yang sakit parah, keinginannya untuk melihat cucu kesayangan menikah sebelum meninggal, lalu yah… perjodohan, pertunangan, dan pernikahan.

Eunmi mulai menyadari bahwa kedua orang tuanya telah hanyut dalam pembicaraan serius kala itu. Sebuah ide gila terbesit di benaknya.

Perlahan ia bangkit, berniat kabur sebagai bentuk protesnya. Tapi, ada satu hal yang ia lupa saat itu, dan siapa yang menduga bahwa itu akan menjadi hal paling memalukan yang pernah ia alami. Ia berlari dengan memakai high heels lima senti. Sehingga…

BRUK!

…ia terjatuh dan menabrak seorang pelayan wanita yang sedang mengerjakan tugasnya –membawa segelas kopi ke meja lain. Dan tentu saja tumpahan kopi itu dengan cepat merembes ke dress putihnya.

Well, anak kecil pun tahu hari itu Eunmi sangat sial. Dipaksa berdandan, berlagak seperti wanita elegan, dijodohkan, jatuh hanya gara-gara high heels, dress yang basah. Kejadian yang tidak pernah ia harapkan untuk terjadi.

Untungnya saat itu ibu Baekhyun meminjamkan dress hasil rancangannya sendiri untuk mengganti dress-nya yang basah. Padahal Eunmi sendiri sudah bersikap tidak sopan, tapi ibu Baekhyun dengan baiknya melakukan hal tersebut padanya. Bahkan hingga saat ini ia masih menyimpan dress itu—sebagai bentuk terima kasihnya.

Ibu yang pengertian. Tidak seperti anaknya yang membuat ia pusing seratus keliling.

Dan untuk Baekhyun yang nyaris merasakan high heels lima sentinya… jangan salahkan Eunmi. Tapi, salahkan pria yang tidak ada imutnya sama sekali itu. Padahal ia tidak butuh bantuannya saat tersandung, tapi pria itu dengan seenak jidat memeluknya. Meski dengan maksud menahan dirinya agar tidak mencium tanah, sih. Tapi tetap saja memeluk, ‘kan?

“Sudahlah. Itu memang kenyataan,” celetuk Baekhyun tiba-tiba. Hal itu lantas menyadarkan Eunmi dari lamunannya dan mendelik sadis ke pria itu. “Dan… kau tidak risih terus-terusan memakai gaun itu? Tidak mau ganti baju? Ah! Atau mau kubantu berganti baju—”

“Heh, mesum! Jika kau berbicara lagi akan kusobek mulutmu!”

“Ih! Takuuut~”

Eunmi mendengus, sedangkan Baekhyun berlagak bak anak kucing yang ketakutan. Serius! Ia ingin mengubur dirinya hidup-hidup! Ia tak habis pikir, kenapa orang tua yang paling ia sayangi, yang paling ia cintai, yang paling ia hormati mau menjodohkannya dengan pria super cerewet, narsis, dan menyebalkan seperti Byun Baekhyun? Ya Tuhan, dosa besar apa yang telah ia perbuat? Apa dunia ini kehabisan stok namja normal?

# # # # #

“Hah? Kau yakin?”

Hanya satu hal yang membuat kerutan di dahi Baekhyun terpampang jelas. Permintaan aneh yang dilontarkan gadis di hadapannya. Tidak terlalu aneh, sih. Tapi permintaan yang satu ini tidak seperti kebanyakan gadis pada umumnya yang ingin diantar sampai ke tempat tujuan. Dan bagaimana bisa gadis ini tiba-tiba ingin turun di tengah-tengah perjalanan ke sekolah?

Pertanyaan Baekhyun hanya dijawab dengan sebuah anggukan mantap. Eunmi yakin akan berjalan menuju sekolah meski jarak yang ditempuh tidak bisa dibilang sangat dekat. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak mau menjadi bahan gosip karena kedapatan dibonceng oleh lelaki yang sangat dicintai begitu banyak siswi di sekolah.

“Kau yakin? Benar-benar yakin? Kau yang harus bertanggung jawab jika halmeoni tahu kau berjalan kaki, bukannya naik motor denganku.”

Well, setelah kemarin resmi menjadi sepasang suami-istri (sungguh, ia tidak rela mengatakan ‘sepasang suami-istri’), kedua insan itu dituntut untuk ke sekolah bersama oleh sang nenek. Meski bukan merupakan keharusan, mereka sangat sadar untukharus membahagiakan hati sang nenek karena… kau tahulah, umur nenek itu sudah tidak panjang lagi—bukan berniat kurang ajar, tapi kesehatan nenek itu seperti bergantung pada tingkat keahlian dokter yang menanganinya.

Eunmi mengangguk sekali lagi, yang kali ini disertai sebuah ekspresi meyakinkan. “Yakin,” jawabnya singkat. “Tenang, aku yang akan bertanggung jawab jika halmeoni tahu hal ini.”

Baekhyun mengangguk-anggukkan kepala sehingga helm yang ia pakai sedikit melorot. Ha! Konyol sekali. Tidak bisa Eunmi bayangkan bagaimana reaksi fans-fans-nya jika tahu bahwa pria yang mereka gilai begitu konyol, narsis, dan cerewet. Dan juga jangan lupakan keinginan pria itu yang mau membantu mengganti gaun pengantinnya kemarin malam.

“Kau juga yang bertanggung jawab kalau kakimu tiba-tiba patah di tengah perjalanan. Dan jangan berani menyalahkanku atas resiko yang menimpamu!”

Alih-alih menjawab ocehan tak masuk akal Baekhyun, Eunmi memutar kedua bola matanya dan memberikan helm yang baru saja ia lepas dari kepalanya ke pria itu. “Jam 4 sore kutunggu di sini. Begitu juga seterusnya. Setiap pulang sekolah kita berkumpul di sini, di jam yang sama, lalu pulang bersama agar halmeoni tidak curi—”

“Wah! Ya!” potong Baekhyun seraya menepuk pundak Eunmi layaknya batita yang berhasil mengancingkan kancing baju. “Bilang saja kau memang ingin pulang bersamaku. Jangan bawa-bawa nama halmeoni. Hahaha. Ah, pesonaku memang tidak bisa diganggu gu—aaaw!”

Sebuah cubitan di lengan serta lirikan tajam yang diberikan Eunmi menahan semua ucapan narsis Baekhyun yang mengantri di ujung lidah. Tangan kanan pria berkulit putih susu itu mengusap lengan kirinya yang telah menjadi korban pencubitan seorang ‘penjahat’ bernama Lee Eunmi. Mata sipitnya secara otomatis langsung membulat tidak terima atas perlakuan gadis itu terhadap lengan kekarnya. (Apa? Lengan kekar?!)

“Aku sudah sering mendengar itu, jadi simpan semua ucapan narsismu untuk para fans-mu! Pokoknya sepulang sekolah, nanti sore, besok sore, dan seterusnya aku tunggu di sini! Jam 4! Arasseo?!” Hasratnya untuk berteriak—kau tahu, Baekhyun benar-benar menyebalkan—tidak bisa dibendung lagi. Jadi, Eunmi berteriak sampai-sampai rahang bawah Baekhyun jatuh tiga senti. Ia kira Eunmi selamanya akan menjadi gadis yang tidak banyak bicara, tapi kini ia berteriak untuk pertama kalinya di hadapannya!

Baekhyun menghela napas panjang sebelum berbicara, benar-benar terkejut dengan teriakan Eunmi barusan. “Arasseo. Aku akan ke sini sepulang sekolah. Jam 4 sore, ‘kan? Oke.”

“Ya, jam 4 sore,” jawab Eunmi sambil memandang pria di hadapannya yang mulai menyalakan motor sport merahnya. Errr… mendapati Baekhyun yang tidak uring-uringan satelah ia berteriak, rasa bersalah sedikit-sedikit menggerogoti dirinya.

Jja, aku berangkat dulu! Kalau aku belum sampai, tunggu di sini dan jangan pulang sendiri, ara?” Baekhyun menuding Eunmi dengan jari lentiknya. Sedetik kemudian, jari-jari lentik itu menutup kaca helm dan bersiap-siap menjalankan kendaraan roda dua itu—oh kenapa Eunmi merasa Baekhyun terlihat cukup keren.

“Ah ya, ada satu yang ketinggalan.” Kaca helm Baekhyun kembali terbuka. Pria itu mengisyaratkan Eunmi untuk mendekat dengan jarinya. “Kemari!”

“Hah?”

Kalau saja ekspresi Baekhyun tidak seserius ini, tapi jahil seperti biasanya, Eunmi jamin pria berjaket hitam itu tidak akan mengikuti pelajaran di sekolah hari ini.

“Jangan hah-hah-hah! Sini! Mendekat!”

Tanpa meminta persetujuan Eunmi, tangan panjang Baekhyun meraih lengan kurus gadis itu dan menariknya mendekat. Wajahnya ia condongkan pada telinga gadis itu hingga hasil dari proses respirasinya menggelitik daun telinga sang gadis. Aroma citrus yang sudah sangat wangi itu tercampur sempurna dengan feromon pria itu, menguar begitu saja hingga entah kenapa terasa lebih memabukkan ketimbang ramyun kesukaan gadis itu.

Jujur saja, Eunmi merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Perutnya juga terasa seperti diaduk-aduk tanpa ampun di mesi cuci. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan dirinya. Begitu rumit, tidak dapat dijelaskan. Sebelumnya, tidak ada lelaki yang berjarak begini dekatnya dengan dirinya. Jadi… ah, mungkin karena ini pertama kalinya.

“Jika kau butuh bantuanku, aku ada di kelas 3-3. Dan juga…,” Baehyun berbisik. Manik matanya melirik kanan-kiri seolah tidak ingin seorang pun menguping ucapannya. “jangan merindukanku,” lanjutnya lantas buru-buru melesatkan motornya kabur. Otak namja bermata kecil itu sudah menduga-duga berbagai macam reaksi gadis itu. Bisa jadi ia mencubit, memukul, melempar tasnya, sepatunya, atau…

“BYUN BAEKHYUN-SSI! ENYAHLAH KAU!”

Bersamaan dengan hilangnya Baekhyun dari pandangannya, rasa bersalah yang ia rasakan pada pria itu menguap, lenyap entah ke mana.

#####

Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, mungkin adalah penggambaran yang tepat bagi Eunmi. Siswi kelas 2 SMA Younhee itu tidak bisa fokus dengan pelajaran sejarah yang paling ia suka ini. Bukan karena guru baru yang mengajar seperti menceritakan kisah paling membosankan sepanjang hidupnya, tapi karena ia butuh tidur saat ini juga.

Tentu kemarin malam ia tidak bisa tidur lelap. Bayangkan, ada orang asing tiba-tiba tidur satu ranjang denganmu. Dan orang tersebut adalah seorang laki-laki yang jelas berbeda dengan Eunmi yang bernotabene seorang gadis.

Yah, kemarin malam ia dan Baekhyun berbaring di satu ranjang yang sama dengan setumpuk guling sebagai pembatasnya.

Apakah ia gugup? Tidak, ia malah merasa gelisah. Ia khawatir pria itu akan berbuat yang tidak-tidak pada dirinya, mengingat ia telah berbuat mesum sebelumnya. Tentu sebagai wanita yang sangat menjaga diri dari serangan orang jahat—oke, ini mungkin sedikit berlebihan—ia rela tidak tidur meski pada akhirnya … ia tertidur juga, sih.

Tapi, yang penting ia sudah berusaha menjaga diri, bukan?

Matanya yang berat sejak tadi terus-menerus melirik jam dinding yang sengaja digantung di belakang kelas. Dalam hati ia betul-betul berharap jam istirahat segera datang lalu tidur meski hanya setengah jam. Lumayan, ‘kan? Daripada tidur di tengah-tengah pelajaran seperti ini tapi resiko yang didapat dikeluarkan dari kelas atau diberi tugas tambahan. Dua manik matanya pun memancarkan secercah kebahagiaan tatkala jarum jam bergerak nyaris mencapai angka duabelas.

Sepuluh, sembilan, depalan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu.

TING TONG~

“Oke, sekian pelajaran saya hari ini. Terima kasih anak-anak. Ah! Dan jangan lupa minggu depan kita ulangan, arasseo?”

Eunmi sama sekali tidak ambil pusing dengan pemberitahuan Shin seongsaengnim hingga pekikkan sarat akan kepedihan teman-temannya menggema di gendang telinganya. Baginya, semua itu hanyalah sebuah lullaby yang siap mengantarnya tidur.

Kedua tangannya ia lipat di atas meja. Badannya ia gerakan untuk mencari posisi ternyaman untuk tidur walau dalam keadaan duduk. Kepalanya yang terasa berat sejak jam pelajaran pertama ia sandarkan perlahan di atas lengannya. Ah, nyaman sekali. Pulau Kapuk, I’m coming~

.

.

.

.

.

“KAWAN-KAWAN! BAEK HYUNSHIK! BAEK HYUNSHIK PUNYA BERITA BESAR YANG DITEMPEL DI MADING SEKOLAH! CEPAT KE SANA!”

Suasana di kelas yang hanya ditempati segelintir siswa itu begitu damai pada awalnya sampai seorang siswi tambun berambut khas Dora meneriakkan sesuatu yang bahkan menurut Monggyu, anak anjing peliharaan klub Pecinta Alam, tidak penting bagi kehidupan. (Apa kau bercanda? Dia hanyalah seekor anjing!)

Well, ternyata teriakan si ‘Dora’ cukup dahsyat. Sampai-sampai Eunmi yang sudah mulai merasakan keindahan Pulau Kapuk, samar-samar menangkap lalu mengirim sebuah impuls ke otaknya.

Baekhyun-ssi punya berita besar yang ditempel di mading sekolah.

 

Baekhyun-ssi punya berita besar…

 

Baekhyun-ssi…

“APA?!!!”

“Ya! Kau mau kucekik?! Lihat! Kau mencoreti gambaranku! Aish!

Bocah itu, Byun Baekhyun. Awas saja jika bertemu nanti!

Eunmi tidak mempedulikan manhwa gambaran sahabatnya yang sedang dalam tahap finishing itu. Tidak peduli apakah gambar manhwa itu akan berubah menjadi Doraemon dan kawan-kawan atau Tintin dan anjing putih cerdasnya atau apapun itu karena tersenggol olehnya—senggolannya benar-benar luar biasa, bahkan kursi yang ia duduki terjengkang ke belakang!

Yang ia pedulikan saat ini hanya berita besar yang pasti tentang pernikahannya dengan Baekhyun, yang telah disebarkan bocah narsis itu di mading sekolah.

Pokoknya ia harus menemui bocah itu sekarang juga!

Kedua kakinya melesat menyusuri koridor sekolah berisikan ratusan siswa yang keluar-masuk kelas. Kecepatannya sungguh tidak bisa dikurangi apalagi diberhentikan. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun kepala. Semua omelan, teriakan, umpatan yang sudah ia susun siap untuk dikeluarkan kapan saja dari singgasananya pada Baekhyun. Jika menghadap cermin saat ini juga, ia yakin keseluruhan wajahnya sudah menjelma menjadi Hulk.

Kelas 3-3. Ya, kelas yang kini menjadi tempat tujuannya dan yang ia yakini sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang pria super duper menyebalkan bermarga Byun. Berani-beraninya menyebarkan rahasia terbesarnya di sekolah. Dia mau mati di tangannya, huh? Aish, jinca!!!

“Awas kau Byun Baekhyun-ssi!” Eunmi mendesis sembari terus berlari. “Lihat saja jika aku sudah sampai di kel—WOOO! Ya! Aduh! Kau tidak punya mata, hah!?”

Eunmi lagi-lagi terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Sepertinya tubuhnya mulai terbiasa menyapa lantai akhir-akhir ini. Ia menabrak seorang pria jangkung berahang tegas yang membingkai sempurna wajahnya ketika akan membelok. Di saat yang hampir bersamaan, semua perhatian berpusat pada Eunmi dan si pemuda berkat bentakan menggelegarnya, mengalahkan keramaian yang tadi ditimbulkan para siswa yang asyik bercanda di sepanjang koridor.

Eunmi meringis, pantatnya ngilu. Tangan kanannya memegangi pantat malangnya, kemudian matanya langsung mendelik sangar ke arah si pemuda jangkung itu. Duh, apa ia tidak tahu ada yang sedang terburu-buru?

“Siapa yang menabrak, siapa yang tidak punya mata?” gumam pemuda itu pelan supaya gadis yang sebetulnya menabraknya itu tidak mendengar. “Mianhae, aku sedang buru-buru.”

Pria itu lalu berdiri dan segera mengulurkan tangannya ke hadapan gadis—yang menurutnya kasar—di depannya. Indera pendengarannya menangkap decakan-decakan yang terus keluar dari bibir gadis itu. Astaga, haruskan seperti itu meski ia sendiri sudah meminta maaf?

Eunmi terdiam, memilih untuk tidak merespon perkataan pria itu daripada energinya habis duluan sebelum meneriaki Baekhyun. Ia menatap sangsi uluran tangan pria itu. Mungkin saja ia ingin mengerjai dirinya. Mungkin setelah ia menerima uluran tangannya, ia akan didorong hingga kembali jatuh.

Namun setelah menimang-nimang antara memilih ya atau tidak, pada akhirnya Eunmi menerima uluran tangan pria itu.

Sementara tangan kanan gadis itu membalas uluran tangannya, pemuda itu tercengang. Ekor matanya terkunci pada gelang yang dikenakan sang gadis. Bukan sepenuhnya gelang. Hanya saja sebuah tali sepatu yang terlihat usang, dengan sebuah kancing baju yang menjadi aksesorisnya, melingkar di pergelangan tangan gadis itu. Kedua mata itu kemudian melirik name tag yang bertengger rapi di seragam sekolah gadis itu.

Lee Eunmi.

Mendengar nama itu pikirannya langsung melayang pada kejadian sepuluh tahun lalu. Kejadian yang membuatnya mengenal kata ‘suka’. Kejadian yang membuat nama indah itu menghiasi pikirannya bertahun-tahun lamanya. Kejadian yang membuatnya ingin mati saja ketimbang tidak dapat melihat gadis itu lagi. Kejadian yang ia janjikan dalam hati, tidak akan dilupakan begitu saja.

Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik sehingga sebuah lengkungan ke bawah terlukis pada wajah tampannya. Ia menatap lekat-lekat gadis di hadapannya, tidak peduli degan tingkah gadis itu yang meronta-ronta ingin dilepaskan, saking eratnya genggaman tangannya pada ­si gadis. Setiap inchi wajah oriental itu ia selisik. Well, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, hanya saja kedua pipi itu sudah mengempis dan tentu… bertambah cantik.

Kira-kira, apa ia masih mengingatku?

TBC

Advertisements

2 thoughts on “Unwanted Marriage | Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s