Don’t Worry

tumblr_static_omo

Cast: Sehun | Rating: G | Length: Ficlet

Genre: Family, comedy

Sehun hanya mencoba mengatasi kegalauan kakak tersayangnya

.

Awalnya, Sehun pikir segalanya akan semulus harapannya. Namun dalam realitas yang ia jalani, segalanya itu hanya bohongan.

Awalnya memang terasa indah. Ketika hidangan buatan ayahnya untuk pesta kemarin malam, dengan lezatnya tenggelam ke dalam perutnya. Begitu juga ketika hadiah pemberian teman-teman wanita kakaknya menumpuk dan menghalau jarak pandangnya (sampai-sampai dahi ibunya berkerut, memikirkan siapa yang berulang tahun, siapa yang mendapat kado). Dan yang terakhir, ketika kakak tercintanya meniup lilin ke-20-nya. Akhirnya, kakaknya sudah dewasa.

Ya, dewasa—semoga saja.

“Benar-benar, deh. Aku heran kenapa orang-orang di pemerintahan tidak ada selera. Masa mengambil foto di tempat yang minim cahaya? Tidakkah mereka punya banyak anggaran untuk membeli lampu studio? Aish!”

Wajah Sehunsudah kusut semenjak Noona-nya menarik paksa dirinya untuk turun. Apalagi kalau bukan untuk menemaninya makan malam? Tapi ternyata, ia juga harus merelakan kupingnya digelitiki celotehan tidak beralasan begini.

Aih, hidup memang tidak semulus harapan. Malangnya.

“Yumi Noona, kenapa harus marah-marah? Itu hanya kartu tanda penduduk. Kau bisa meminta ayah atau ibu menyewa studio foto seharian penuh lalu berpose sesukamu di sana,” keluh Sehun padaYumi, Noona-nya.

“Aku tidak marah, tapi sebal. Kau tahu, Sehun-ah,kulitku jadi terlihat hitam! Padahal aku tidak sehitam itu dan malah jauh lebih putih darimu.”

Wajar jika Sehun tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya ketika mendengar itu. Ia mati-matian merayu Luhan untuk bermain bola bersamanya di tengah teriknya matahariselama sebulan penuh. Dan hasilnya? Kulitnya jadi sedikit hitam-eksotis, dan tidak ada lagi ejekan Shiro dari mulut Jongin.

“Belum lagi minyak-minyak sialan yang entah dari manaitu. Kau tahu, ‘kan, kulitku tidak memproduksi minyak sebanyak kilang minyak. Itu pasti karena kualitas kameranya.”

“Tidak mungkin!” Sehun mengelak keras. “Zi Tao, temanku saja masih terlihat tampan meski menggunkan kamera beresolusi 2 Mega Pixels. Noonasaja yang terlalu berlebihan.”

“Terserah. Yang penting akusudah memberitahumu.” Yumi mengangkat bahu. Kimchi yang ia beli sepulang kuliah dilahapnya. Oh, sudah dingin rupanya. “Asal kau tahu. Kau akan mengerti ketika umurmu dua puluh tahun, Sehun-ah, saat kau mendapat kartu tanda pendudukmu sendiri.”

Tidak akan, timpal Sehun, tentu saja membatin. “Memangnya foto Noona seperti apa? Aku ingin tahu.”

Belum sedetik berlalu, manik mata Sehun langsung disuguhi gerak-gerik Noona-nya yang merogoh tas, mencari dompetnya. Noona-nya itu lalu mengeluarkan sebuah kartu tipis dari kantung dompet dan menyodorkannya pada Sehun.

Eh? Apa-apaan ini?

Noona,”panggil Sehun dengan mata yang mendelik sangar. “Fotomu di kartu dengan wajahmu sekarang tidak ada beda—”

“Tidak! Tentu beda! Matamu harus jeli atautidak akan menemukan perbedaannya,” sungut Yumi. Sendok yang ia pegang untuk makandijejalkan ke mulut dengan kasar, menimbulkan suara yang membuat Sehun risih.

Sekarang ini, Sehun hanya tidak mengerti. Noona-nya pun sudah berumur dua puluh tahun, tapi tanpa ia duga-duga, perilakunya tidak mencerminkan wanita dewasa. Masih sama seperti adik Kyungsoo yang selalu menagis jika tidak dibelikan permen, kekanak-kanakan.

Sepertinya Sehun harus melakukan sesuatu. Ya, sesuatu yang mencengangkan.

“Mau ke mana? Kembalikan dulu kartu itu.” Mendapati Sehun beranjak dari kursi makan, Yumi lantas meminta benda persegi panjang itu. Setidaknya ia masih waras untuk menyimpan kartu tanda penduduknya. Karena itu penting—juga menyebalkan.

“Aku pinjam sebentar. Besok pagi sebelum sekolah akan kukembalikan. Tenang saja,” ujar Sehun sembari berlari menaiki tangga. Ia tersenyum cerah. “Jaljayo, Noona! Semoga mimpimu indah!”

.

.

.

Di pagi hari keeseokan harinya, sudah hampir setengah jam Yumi duduk bertopang dagu di ruang makan tanpa ada selera untuk mencicipi segelas coklat panas favoritnya. Ia tidak tampak seperti biasanya. Rasanyaia tidak ada asupan semangat. Kemarin malam saja Yumi kesulitan memejamkan mata lantaran gelisah akan nasib kartu tanda penduduknya.

Well, sejujurnya tidak perlu seheboh ini, sih, jika saja yang memegangnya bukan Oh Sehun, adik laki-lakinya yang selalu punya ide…gila?

“Selamat pagi, Noona!”

Yumi yang melihat kedatangan Sehun, berlari. Dan tanpa basa-basi menyerang adiknya. “Mana kartuku?”

“Eits! Santai dulu, Noona.” Dengan lincah, Sehun menghindari pukulan tangan Noona-nya. Ada untungnya juga menjadi atlet baseball. “Bukannya Noona lebih suka benda itu hil—aduh!”

“Jangan banyak omong! Berikan kartuku!”

Sehun tidak lantas menjawab, malah cepat-cepat beringsut menjauhi Noona-nya. Dan masih mengelus pundaknya, ditambah dengan air muka yang terlihat kesakitan, Sehun secara perlahan duduk di kursi paling ujung.

“Setelah kuserahkan kartu itu padamu, kau harus berterima kasih padaku, Noona,” katanya sambil mengolesi roti bakarnya dengan selai. Oh, lagaknya bahkan tampak elegan, padahal Noona-nya sendiri sudah seperti ingin menyantapnya bulat-bulat.

“Oh, ya? Kenapa aku harus?”

“Karena aku sudah menyulap kartu kesayanganmu.” Yumi pikir, dia gila.Senyum adiknya saat ini sangat manis, namun demi apapunYumi ingin menoyor kepalanya. “Aku pintar, bukan? Nah, selesai! Aku berangkat sekolah dulu, ya, Noona!”

“Hei,kembalikan dulu kartu pendudukku!” cegat Yumi ketika Sehun hendak membawa kabur kartunya (lagi).

“Tapi Noona harus berterima kasih dan mentraktirku bubble tea.”

Aish, mulai lagi, gerutu Yumi. “Oke, deal. Dan sekarang, mana kartuku?”

Bagi Yumi, mimik Sehun seratus persen mengesalkan. Senyumnya itu betul-betul membuatnya dongkol. Kelihatannya tabungan Yumi akan terkuras. Tak bisa ia tebak berapa gelas bubble tea yang Sehun minta untuk membalas jasanya ini.

Sehun menganggukdan merogoh kantung celananya. “Ini dia!” Diacungkannya kartu itu tiggi-tinggiagar Noona-nya tidak bisa langsung merebut. “Noona harus menepati janji, lho!”

“Tentu. Berikan padaku!”

“Tapi Noona harus mundur lima langkahdulu! Cepat, Noona! Aku tidak mau terlambat sekolah hanya gara-gara ini,” rengek Sehun.

Mau tidak mau, Yumi menjauhi Sehun sebanyak lima langkah. Astaga, adiknya ini benar-benar!Ia sudah merasa dibodohi bocah puber di depannya! “Sudah. Lalu?”

Sehun tersenyum diam-diam. Wooo, akhirnya!“Akan kuletakkan kartu ini di meja,” ujarnya lambat-lambatkemudian menaruh kartu tanda penduduk Noona-nya dalam keadaan terbalikdi meja. “Lalu… aku akan kabur!” Sesaat setelahnya, Sehun melesat meninggalkan Noona-nyadengan sebuah ringisan pada wajahnya.

Yeah, sudah kuduga. Awas saja kau!” desis Yumiyangkemudian membalik, mengangkat, dan memeriksa kartunya. Mungkin ada yang berubah atau rusakkarena….

“OH SEHUN!!! KAU MENINDIH FOTOKU DENGAN FOTO MIRANDA KERR?!Dan… YA! KAU MEMAKAI LEM APA, SIH? KENAPA TIDAK BISA LEPAS?!!!”

Don’t worryNoona!” seru Sehun tiba-tiba. Kepalanya menyembul dari balik pintu, serta senyumnya yang… jahil luar biasa. “Kalau ada masalah lagi beritahu aku, pasti kubantu. See ya, Noona! Kau berhutang bubble tea, padaku, ya!”

“Y-ya! Kau kembali? YA! KEMARI KAU BOCAH TENGIL! YAAA!!!”

The End

Beberapa hari lalu aku dapat KTP, lho! Yeah! Dan aku sama kayak Yumi. Foto di KTP itu demi apa coba, jelek banget. Rasanya itu bukan aku dan kepingin foto ulang *diinjek*.

Terus, sebenernya aku nggak tahu tempat foto KTP di Korea sana kayak gimana, jadi ya aku samakan aja seperti yang ada di Indonesia. Huahaha *diinjek lagi*. Dan ada satu lagi yang nggak aku yakin alias diawur. Usia. Tapi, kok, kayaknya emang di usia dua puluh tahun, ya, orang Korea sana dapat KTP. Mereka diaanggap udah dewasa waktu umur 20, ‘kan? Iya, ‘kan? Wahaha *untuk kesekian kalinya diinjek lagi* XD

Advertisements

2 thoughts on “Don’t Worry

  1. Hahahaha, jadi keinget foto ktp yang, baiklah harus rela “seadannya” dan mereka yang kamu sebut orang-orang pemerintahan itu waktu diprotes wajahnya darar-datar aja. bikin depresi. hahahaha

    • hai, kak Areta! wahaha. iya, kak, foto KTP itu semacam mau gak mau harus diterima wujudnya kayak gimana(?), trs rasanya itu antara pingin protes tapi gak peduli gitu, deh(?). wkwkwk. makasih ya, kak XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s