Merindu

jinjinjinjin

 Kim Seokjin (BTS), OC

Romance, Comedy | Vignette | PG-12

sudah barang tentu kondisi-kondisi tersebut tidak mungkin ia dapatkan di atas lantai kayu anjungan.

.

 

Bibir penuh itu nyaris tak pernah meninggalkan senyum.

Biar sinar ultraviolet yang menggantung di atas sana menyerbunya habis-habisan, koper hitam yang sedari tadi digeretnya serasa berton-ton liter galon air, serta seragam hitam-hitam yang kini ia kenakan bersekongkol dengan mentari untuk membakar kulitnya…

…kuluman di bibir itu tetap saja tak pudar.

 

Sebetulnya, Seokjin tidak harus menggunakan kedua kakinya untuk meninggalkan pelabuhan, dan menempuh lima kilometer untuk mencapai rumah. Namun, entahlah. Tampaknya rindu yang tengah merundung hatinya yang harus menjadi tersangka utama atas tingkah gilanya kali ini. Dikarenakan tinggal berbulan-bulan bersama deburan ombak membuat gulana pria itu akan kerasnya aspal jalanan meluap. Begitu juga dengan teriakan ranting-ranting pohon yang saling bergesek diterpa angin, kicauan burung gereja yang selalu menajadi favoritnya, serta tawa lugu bocah-bocah yang kini berkejaran mencari serangga musim panas—yang sudah barang tentu kondisi-kondisi tersebut tidak mungkin ia dapatkan di atas lantai kayu anjungan.

Jadi, bisa dibilang ia sedang ingin menikmati momen-momen daratnya.

Lagipula, pelayaran kali ini tidak sesantai biasanya. Tidak mengizinkan Seokjin berbuat banyak selain bergelut dengan tim kebanggaannya serta peta-peta berkoordinat yang memusingkan-tapi-asyik itu.

Jadi, ia pikir sedikit berolah raga sebelum menemui orang terkasih tidak ada salahnya, bukan?

.

Ah, orang terkasih….

Membuatnya berpikir: Bagaimana kiranya kabar wanita itu?

.

Masih tersimpan dengan baik tentang raut wajah wanita itu di kepala Seokjin, kala pelayaran ke luar benua memanggil dan mengharuskannya meneguk saliva membayangkan ekspresi wanita itu. Dan benar saja, ketika hal itu lolos dari mulutnya, binar mata sang wanita sontak meredup lamat-lamat, namun untungnya masih meninggalkan jejak samar berupa senyum simpul di paras ayunya.

Dan masih tersimpan dengan baik pula tentang raut wajah wanita itu di kepala Seokjin, kala genggaman terakhir mereka terlepas di ujung dermaga. Bibir itu menyunggingkan senyum yang tak biasa; ringkih, yang mana tubuh mungil pemilik senyum itu ingin sekali Seokjin rengkuh erat-erat. Walau sudah berbulan-bulan lamanya, deru napasnya saja masih terasa hingga kini, pun bisikan lembutnya yang menenangkan:

Hati-hati, Seokjin-ah.

Seokjin mancanangkan setiap huruf kalimat itu pada setiap jengkal serebrumnya.

Ya, pasti.

Ya. Dan kini, lelaki itu menepati janjinya pada yang terkasih—wanita itu.

Seokjin membawa seluruh jiwa dan raganya utuh-utuh selepas tugasnya bubar. Memberi kepastian pada sang wanita bahwa ia benar-benar pulang dengan selamat, tanpa kurang satu pun, serta siap menyambutnya dengan seulas senyum hangat—

“Selamat datang, Seokjin-ah!”

—seperti saat ini.

Sungguh erat, kedua lengan Seokjin lantas terayun mengelilingi tubuh ramping itu begitu netranya menangkap sosok wanita yang selama ini telah menjamah pikirannya, membiarkan koper dalam genggamannya tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Indera penciumannya kemudian bergerak dengan sendirinya guna mencari ceruk leher wanita itu, dan kemudian menciumi aroma vanila kesukaannya yang menyeruak dari sana. Ah, betapa besar Seokjin merindukan wanita ini. Bahkan ia sempat berpikir tidak mampu mencari jalan pulang saat di samudra sana saking otaknya kadung dililit rindu akut terhadapnya.

“Jadi, bagaimana kabarmu? Merindukanku?”

Senyum Seokjin sedikit timpang mendengarnya. Jangan munafik. Mata adalah jendela hati. Seokjin tahu wanita itu juga merasakan hal yang sama sepertinya hanya dengan sekali lirik. Maka dari itu, ia cepat-cepat mengecup ringan bibir ranum yang sangat ia rindu itu meski berada di depan tempat yang ia rindu pula—rumah—lalu berbisik, “Sangat.”

Sedangkan yang merasa cuping telinganya tersapu angin terkikik-kikik sebagai balasannya—udara yang menerpa daun telinganya membuat geli. Ia percaya lelaki di hadapannya tak perlu sebuah jawaban. Oleh karena itu, ia diam; toh semua jawaban dari A hingga Z sudah terpampang jelas di iris legamnya. Sebuah pelukan yang tak kalah rapat, yang ia perbuat kali ini pun mencerminkan apa yang ia rasa terhadap lelaki itu. Ia sungguh rindu. Kendati kalimat setelah ini terdengar terlalu hiperbola, benar jika ia berkata: Hidupku susah setengah mati setahun belakangan karena tidak hadirnya seorang Kim Seokjin!

Astaga. Rupanya wanita itu senang sekali menemui sang pangeran. Padahal kalau dipikir-pikir—pft, ia merasa sangat konyol, sehingga diam-diam tertawa mengenang kisah lalunya—semasa SMA dulu harga perhatiannya mahal sekali. Tak jarang ia menyembur perjuangan pria di hadapannya dengan perkataan sadis seperti: ‘Kau bukan tipeku’ atau ‘Kau terlalu cantik untuk menjadi pacarku’ atau ‘Aku saja tak sefeminin kamu. Malas, ah, pacaran sama kamu. Nanti orang-orang mengira kamu si girlfriend dan aku si boyfriend.’

Begitulah.

Hingga kini pun ia tak bisa menguak sebuah misteri yang bahkan berada dalam dirinya sendiri—soal mantra macam apa yang digunakan hatinya sehingga mampu menggerakkan badannya untuk menerima ajakan Seokjin berkencan hingga kini.

“Apa? Kenapa tertawa?”

Oh, ia tak sadar tangan-tangan Seokjin sudah beralih menangkup kedua pipinya dan mengunci bola matanya dengan netra gelap-segelap-langit-malam-tanpa-bintang-nya itu selagi ia tahu-tahu melempar sebuah ledakan tawa. “Tidak, tidak apa-apa, kok,” balasnya sesudah menekan hasrat untuk terpingkal-pingkal lebih lama.

“Oh, ya?”-mata Seokjin memicing, antara sedang menggoda wanita itu dan tidak percaya akan omongannya-“Tsk, kau ini.” Mendengus, Seokjin mengacak gemas surai sebahu perempuan itu, dan tiba-tiba menceletuk kala aktivitas menikmati wajah bulat itu berlangsung, “Omong-omong… kau kurusan.”

Apa?

Mendengar itu, si wanita sontak menjiwit pinggang Seokjin keras-keras, menimbulkan yang dipelintir mengaduh. Duh, apanya yang kurusan? Dua bulan belakangan nafsu makannya naik secara ekstrem. Karena sadar betul akan hal itu, penuturan Seokjin dianggapnya sebagai hinaan ketimbang pujian.

Ugh, berusaha melucu, ya?

“Hei, apa-apaan, sih! Bukannya wanita suka dibilang kurus?”

“Kata siapa?!”

“Barusan aku—“

“Kalau tidak tahu apa-apa, lebih baik diam saja!”

Aw, sayangku ini makin menggemaskan ketika marah.”

“Kim Seokjin!”

“Mama….”

Bukan. Yang barusan bukan bariton milik Seokjin. Jadi, kedua insan itu mengalihkan atensi pada sumber suara.

Dari belakang tubuh wanita itu muncul seorang gadis kecil dengan pita merah berukuran jari kelingking tersemat di rambut ikalnya. Pipinya gembul, bersemu merah persis hiasan yang menempel di rambut hitamnya. Jika dilihat baik-baik, wajah oval yang membingkai mata bulatnya mengingatkan Seokjin akan sosok wanita yang tadi berada di dekapannya. Bisa dibilang, bocah itu seolah hasil kloning sang wanita. Namun bedanya, yang ini versi anak-anak.

“Hai!” seru Seokjin. Air mukanya langsung berseri-seri saat menyadari presensi si gadis cilik. Ia berjongkok dan disusul oleh kedua tangannya yang meregang lebar-lebar. Tapi, alih-alih memperoleh balasan dari anak berusia setahun lebih itu, Seokjin justru mendapat ekspresi aneh. Tak apalah. Karena setelah itu ia tetap melanjutkan keceriaannya dengan berkata lebih riang dan dibuat-dibuat seperti anak kecil—membuat wanita tadi memutar bola mata antara mencemooh dan geli. “Wah, kau sudah besar, ya! Ayo mendekat supaya aku bisa memelukmu! Tidakkah kau rindu—“

“Ih! Ma, paman ini siapa?”

Terkejut, rahang bawah Seokjin nyaris jatuh. Sempat ia berpikir anak kecil ini manis dan terlihat malu-malu. Tapi, begitu sebaris kalimat tanya terlontar dari bibir merah mudanya, kesan pertamanya jadi bertambah satu; anak ini pintar sekali. “Wah, sepertinya kau juga sudah pandai berkata-kata. Aduh, sini mendekat! Aku makin ingin memelu—“

“Ma! Aku takut!”

Tidak tahu apa yang sudah diperbuat Seokjin di masa lampau. Ia sendiri juga tidak mengira akan mengalami kejadian seperti ini begitu mendaftar sekolah pelayaran. Sementara lelaki itu terbengong menyelami pikiran paling dalamnya, wanita itu bejuang menenangkan tangisan anak perempuannya dengan mengelus lembut punggung kecilnya dan mengatakan kata-kata manis padanya.

Astaga….

“Hei, Seokjin-ah. Kau tahu sesuatu tidak?

“Apa?”

“Kasihan sekali kau.”

Pundak Seokjin melorot. Pelan tapi pasti, Seokjin mengangguk, setuju. “Yah, memang.”

Yah, memang. Selama itukah Seokjin melaut sampai-sampai…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

…anak kandungnya sendiri melupakan sang ayah?

 

The End

Pernah aku post di IF.

Aduh, ini aku juga nggak tau nulis apaan. Semuanya aneh. Romace-nya hancur banget, komedinya juga maksa banget. Ugh -_-

Silahkan memberi kritik pedas dalam takaran wajar(?). Aku bakal seneng kalau kalian kritik aku. Apalagi sampe di-review. Eheheheh. Terima kasih~

Advertisements

4 thoughts on “Merindu

  1. Yaampuun sedih banget. Kasian Seokjin dilupain sama anaknya sendiri:”
    Mungkin ini lebih ke sad fic atau hurt yah kak(? /sok tau mah Tiara ini/
    Seokjin bapak idaman bangeetlaah kerja kerasnya uughhㅠ.ㅠ

  2. Iyaa sedih kaak:”
    Kasian banget si Seokjinnya gegara gaperna pulang sampe dilupain anaknya. Untung istrinya kagak ikut lupa juga XD bisa2 bang Jin gantung diri di tempat kalo istrinya juga lupa siapa dia
    Aduuh bang Jiin aku mau kok jadi anakmu:’) buang aja ituh anak yang gainget kalo kamu bapaknyaaX”D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s